Laman

Sabtu, 11 Februari 2012

Cerpen _ (Bukan) Idola


( BUKAN ) IDOLA

Aku ditinggal sendirian di rumah, di hari minggu yang membosankan ini. Ayah dan ibuku pergi “pacaran” bak sepasang kekasih yang masih muda. Sedangkan kedua adikku pergi bermain entah kemana. Sebelum pergi, ibuku memberikan wejangan khasnya setiap kali beliau hendak pergi.
“Indah, kamu masak sendiri yah. Semua bahan masakan ada di kulkas. Nanti kalau kami pulang sudah ada makanan yang tersedia. “ Ibuku mengerlingkan mata, sementara ayahku tersenyum – senyum. Aku menepok jidat keras. Selalu begitu.
Kunyalakan TV, entah sudah berapa kali aku bertukar – tukar channel TV. Tidak ada yang menarik menurutku. Acara musik, semua penyanyinya tampil lipsync, mic kemana dan bibirnya pun entah kemana. Itu pun dilakukan dengan percaya diri penuh. Penontonnya berjoget seragam dengan kaca mata hitamnya. Membosankan. Aku curiga jangan – jangan mereka tak paham dengan lagu yang sedang dimainkan.
Hingga tibalah aku di salah satu channel yang memuat acara berita artis, lumayan buat hiburan. Aku suka menonton berita artis karena bagiku inilah saatnya aku mengomentari mereka, hal – hal yang tidak sesuai dengan hati dan jiwa ragaku. Semua dikupas tuntas. Biasanya tandemku dalam hal ini adalah Ayu, adikku yang masih duduk di bangku SMA. Ada saja yang kami komentari, rasanya tidak ada yang baik di mata kami. Kami cocok sekali dalam hal berkomen. Kalau seandainya ada audisi pencarian bakat komentator, maka kamilah orang pertama yang akan mencalonkan diri.
Tahukah kawan, ketika kalian mengomentari seorang artis maka saat itulah kalian akan merasa bahwa kalian lebih baik dari para artis itu. Mengomentarinya seenak udel. Toh, kalian tidak saling mengenal. Sesuatu yah. Sering kali kami dimarahi oleh ibu kami dalam hal ini, beliau bilang tidak baik menceritakan aib orang lain namun kami tahu bagaimana cara membela diri.
“ Kami kan hanya komentar bu, bukannya bergosip dengan tetangga. Cuma kami berdua kok “ Untuk yang kesekian kalinya beliau hanya menggelengkan kepala.
“ Nanti dapat karmanya lho “
Ah, sayang kali ini tidak ada Ayu sebagai tandem komentator. Maka aku hanya mengernyitkan dahi atau menggelengkan kepala jika ada yang tidak sesuai dalam diri para artis itu, sesungguhnya lidahku tak tahan jika tak berkomentar tapi percuma saja. Sesekali aku mengganti channelnya jika yang keluar adalah artis yang paling menyebalkan, selalu membuat sensasi atau kerjaannya berkelahi sesama artis.
Tak lama keluar juga berita artis yang satu ini, yang terkenal dengan jargonnya. Alhamdulilah yah sesuatu. Sering aku merasa geli sendiri, kenapa orang ini sangat percaya diri sekali. Menurutku ada yang aneh dari cara bicaranya, cara berpakaiannya dan tata make up nya. Aih, apalagi kalau ia sudah menyebut “Alhamdulilah yah”, saat itu juga kumatikan TV.
Tapi entah kenapa kali ini aku hanya diam terpaku menatap layar kaca. Aku hanya memandangi wajah artis ini, kira – kira berapa kilo yah tebal make upnya?. Kira – kira apa merk dari alat kosmetiknya?. Kira – kira butuh berapa lama dia memolesi wajahnya?. Kira – kira berapa biaya yang dikeluarkannya dalam satu bulan hanya untuk belanja segala keperluan artisnya?. Kira – kira apa kerjaannya hanya berdandan?. Kira – kira sejak umur berapa dia bisa berdandan?. Alamak, segitu banyaknya kata “kira – kira” dalam benakku, bahkan akan bertambah lagi jika aku tak segera mengganti channel.
Hei, tiba – tiba suasana berubah. Sepertinya aku merasa berada di sebuah tempat yang asing, seperti tempat sebuah studio televise. Aku heran kenapa adikku juga ada di sana, Ayu. Kulihat ia mondar – mandir. Sibuk tak menentu. Ia membawa pakaian yang amat kukenal. Lalu ia menyodorkan baju itu ke arahku serta menjelaskan segala kegiatanku hari ini. Aku bengong. Tak lupa ia juga menyodorkan alat make up ku serta bulu mata anti badaiku yang diletakkannya secara terpisah, mungkin adikku takut akan terjadi badai manakala alat make up itu bersatu. Sesuatu yah.
Aku membaca schedule acara. Aku akan perform setelah Agnes Monica tampil. Maka bergegaslah aku ke ruang ganti. Adikku merepet tak menentu. Kukenakan baju kerajaan, (maksudnya baju favorit) dan menyanggul rambutku ke depan, hingga berbentuk jambul. Dan aku menamainya Jambul Khatulistiwa. Dalam hal ini sebenarnya aku geli sendiri, di saat semua orang menyanggul ke belakang tapi aku malah ke depan. Mungkin itulah kelebihanku. Lantas aku menyapu make up ke seluruh wajahku, memakai perona pipi dan tak lupa bulu mata anti badaiku. Baru kutahu jawaban dari segala pertanyaan yang kubuat sendiri. Beres.
Tiba - tiba seorang make up artis menanyaiku tentang lagu apa yang akan kunyanyikan. Awalnya aku lupa lagu apa yang akan kunyanyikan, lalu dengan penuh percaya diri aku berseru.
Kau Yang Memilih Aku “
Tentu saja, kau akan menyanyikannya “ Lalu ia berlalu. Aku bengong sendirian. Itu kan lagunya Syahrini?
Adikku kembali datang. Ia masih saja merepet. Aku tak mengerti apa yang direpertkannya maka aku pun bertanya padanya.
Masyaallah yah, apa sih yang kamu repetkan ?” Dia masih saja merepet dan berlalu pergi. Aku kesal bukan main.
Di back stage, kulihat banyak para artis yang akan mengisi acara. Mulai dari band, penyanyi solo bahkan ada artis cilik. Aku duduk dengan gelisah, jujur aku agak gugup untuk tampil hari ini. Kulihat juga banyak penonton yang memadati studio. Mereka bersorak – sorak memanggil artis kesayangannya. Menurutku ada yang aneh, ada sebuah kumpulan fans yang mengibarkan bendera band Slank, setahuku band itu tidak tampil hari ini. Tidak ada lebih tepatnya. Ah, pasti mereka salah masuk ruangan. Abaikan saja.
Acara pun dimulai. Aku bertambah gelisah, kira – kira akan seperti apa penampilanku hari ini. Aku mengelap keringat yang keluar pelan – pelan. Satu persatu para artis tampil ke depan. Aku mencari – cari adikku.
Agnes Monica tampil. Semua penonton bersorak – sorak kesenangan. Sungguh aku ingin menyaksikan aksinya yang biasanya hanya kulihat di depan layar TV. Dia sangat mengagumkan. Nanti setelah acara selesai, aku ingin meminta tanda tangannya. Akhirnya usai sudah penampilannya. Saatnya aku tampil.
Aku berjalan dengan rasa nervous yang belum bisa aku kendalikan. Aku gugup bukan main, sampai rasanya aku lupa lirik lagu yang akan kunyanyikan. Kenapa tidak lip-sync saja?. Batinku. Semua penonton terpaku menatapku, Ah, pasti mereka terpana dengan bulu mata anti badaiku atau dengan jambulku ini. Lupakan. Aku langsung saja memulai aksiku.
Kau yang telah memilih aku, kau juga yang sakiti aku
Kau putar cerita sehingga aku yang salah woohoohoo
Kau selalu permainkan wanita kau putar lagu tentang cinta
Hingga semua tahu kau makhluk sempurna wohohoo
Penonton berteriak – teriak memangilku. Aku senang bukan kepalang. Semakin kencang teriakan mereka, semakin semangat pula aku bernyanyi hingga rasanya aku tak ingin turun dari panggung. Bibirku bernyanyi maju mundur, hingga terasa monyong . Kuputar – putarkan badan bak trio macan yang beraksi. Saking semangatnya, rasanya sanggulku akan copot. Akhirnya usai juga penampilanku. Aku puas bukan main. Kubungkukkan badan tanda hormat, tersenyum genit lalu turunlah aku dari panggung.
Tak lama, datanglah seorang ibu membawa sesuatu. Ah, pasti beliau salah satu penggemarku. Aku tersenyum ke arahnya. Berhenti sejenak. Namun tiba – tiba dia menyiramkan air ke arahku. Aku kaget bukan kepalang. Lalu ia mengoyangkan tubuhku hingga rasanya sesak. Aku berusaha lari namun sial aku malah terjerembab. Aku tak bisa kemana - mana saat ia mencengkram lenganku. Aku berusaha berteriak tapi percuma saja. Suaraku hilang entah lari kemana. Mataku melotot - lotot menahan sesak. Aku seperti melihat sesosok yang amat kukenal.
Ibu “. Desisku.
Hah, kau dapat balasannya kan “ Teriak ibuku kencang. Kulihat para penonton ada yang cekikikan. Wajahku pias mematung.
Tolong semuanya bubar. Silahkan pulang, pertunjukkan sudah habis “ Ujar ibuku. Mereka tertawa terbahak – bahak. Masih kudengar dari jauh obrolan mereka yang tentu saja membuatku akan berpikir ulang tentang pekerjaan sebagai komentator.
Kirain kerasukan jin, rupanya kerasukan Syahrini. Duh, saking ngefansnya sampai segitunya. Alhamdulilah yah sesuatu banget “
Gubrak.
Batam, 30.11.2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar