(
BUKAN ) IDOLA
Aku
ditinggal sendirian di rumah, di hari minggu yang membosankan ini.
Ayah dan ibuku pergi “pacaran” bak sepasang kekasih yang masih
muda. Sedangkan kedua adikku pergi bermain entah kemana. Sebelum
pergi, ibuku memberikan wejangan khasnya setiap kali beliau hendak
pergi.
“Indah, kamu masak sendiri yah. Semua bahan masakan ada di kulkas.
Nanti kalau kami pulang sudah ada makanan yang tersedia. “ Ibuku
mengerlingkan mata, sementara ayahku tersenyum – senyum. Aku
menepok jidat keras. Selalu begitu.
Kunyalakan
TV, entah sudah berapa kali aku bertukar – tukar channel TV. Tidak
ada yang menarik menurutku. Acara musik, semua penyanyinya tampil
lipsync, mic kemana dan bibirnya pun entah kemana. Itu pun dilakukan
dengan percaya diri penuh. Penontonnya berjoget seragam dengan kaca
mata hitamnya. Membosankan. Aku curiga jangan – jangan mereka tak
paham dengan lagu yang sedang dimainkan.
Hingga tibalah aku
di salah satu channel yang memuat acara berita artis, lumayan buat
hiburan. Aku suka menonton berita artis karena bagiku inilah saatnya
aku mengomentari mereka, hal – hal yang tidak sesuai dengan hati
dan jiwa ragaku. Semua dikupas tuntas. Biasanya tandemku dalam hal
ini adalah Ayu, adikku yang masih duduk di bangku SMA. Ada saja yang
kami komentari, rasanya tidak ada yang baik di mata kami. Kami cocok
sekali dalam hal berkomen. Kalau seandainya ada audisi pencarian
bakat komentator, maka kamilah orang pertama yang akan mencalonkan
diri.
Tahukah kawan,
ketika kalian mengomentari seorang artis maka saat itulah kalian akan
merasa bahwa kalian lebih baik dari para artis itu. Mengomentarinya
seenak udel. Toh, kalian tidak saling mengenal. Sesuatu yah. Sering
kali kami dimarahi oleh ibu kami dalam hal ini, beliau bilang tidak
baik menceritakan aib orang lain namun kami tahu bagaimana cara
membela diri.
“
Kami kan hanya komentar bu, bukannya bergosip dengan tetangga. Cuma
kami berdua kok “ Untuk yang kesekian kalinya beliau hanya
menggelengkan kepala.
“ Nanti dapat karmanya lho “
“ Nanti dapat karmanya lho “
Ah, sayang kali ini
tidak ada Ayu sebagai tandem komentator. Maka aku hanya mengernyitkan
dahi atau menggelengkan kepala jika ada yang tidak sesuai dalam diri
para artis itu, sesungguhnya lidahku tak tahan jika tak berkomentar
tapi percuma saja. Sesekali aku mengganti channelnya jika yang keluar
adalah artis yang paling menyebalkan, selalu membuat sensasi atau
kerjaannya berkelahi sesama artis.
Tak lama keluar juga
berita artis yang satu ini, yang terkenal dengan jargonnya.
Alhamdulilah yah sesuatu. Sering aku merasa geli sendiri, kenapa
orang ini sangat percaya diri sekali. Menurutku ada yang aneh dari
cara bicaranya, cara berpakaiannya dan tata make up nya. Aih, apalagi
kalau ia sudah menyebut “Alhamdulilah yah”, saat itu juga
kumatikan TV.
Tapi entah kenapa
kali ini aku hanya diam terpaku menatap layar kaca. Aku hanya
memandangi wajah artis ini, kira – kira berapa kilo yah tebal make
upnya?. Kira – kira apa merk dari alat kosmetiknya?. Kira – kira
butuh berapa lama dia memolesi wajahnya?. Kira – kira berapa biaya
yang dikeluarkannya dalam satu bulan hanya untuk belanja segala
keperluan artisnya?. Kira – kira apa kerjaannya hanya berdandan?.
Kira – kira sejak umur berapa dia bisa berdandan?. Alamak, segitu
banyaknya kata “kira – kira” dalam benakku, bahkan akan
bertambah lagi jika aku tak segera mengganti channel.
Hei, tiba – tiba
suasana berubah. Sepertinya aku merasa berada di sebuah tempat yang
asing, seperti tempat sebuah studio televise. Aku heran kenapa adikku
juga ada di sana, Ayu. Kulihat ia mondar – mandir. Sibuk tak
menentu. Ia membawa pakaian yang amat kukenal. Lalu ia menyodorkan
baju itu ke arahku serta menjelaskan segala kegiatanku hari ini. Aku
bengong. Tak lupa ia juga menyodorkan alat make up ku serta bulu mata
anti badaiku yang diletakkannya secara terpisah, mungkin adikku takut
akan terjadi badai manakala alat make up itu bersatu. Sesuatu yah.
Aku membaca schedule
acara. Aku akan perform setelah Agnes Monica tampil. Maka bergegaslah
aku ke ruang ganti. Adikku merepet tak menentu. Kukenakan baju
kerajaan, (maksudnya baju favorit) dan menyanggul rambutku ke depan,
hingga berbentuk jambul. Dan aku menamainya Jambul Khatulistiwa.
Dalam hal ini sebenarnya aku geli sendiri, di saat semua orang
menyanggul ke belakang tapi aku malah ke depan. Mungkin itulah
kelebihanku. Lantas aku menyapu make up ke seluruh wajahku, memakai
perona pipi dan tak lupa bulu mata anti badaiku. Baru kutahu jawaban
dari segala pertanyaan yang kubuat sendiri. Beres.
Tiba - tiba seorang
make up artis menanyaiku tentang lagu apa yang akan kunyanyikan.
Awalnya aku lupa lagu apa yang akan kunyanyikan, lalu dengan penuh
percaya diri aku berseru.
“ Kau Yang Memilih
Aku “
“ Tentu saja, kau
akan menyanyikannya “ Lalu ia berlalu. Aku bengong sendirian. Itu
kan lagunya Syahrini?
Adikku kembali
datang. Ia masih saja merepet. Aku tak mengerti apa yang
direpertkannya maka aku pun bertanya padanya.
“ Masyaallah yah,
apa sih yang kamu repetkan ?” Dia masih saja merepet dan berlalu
pergi. Aku kesal bukan main.
Di back stage,
kulihat banyak para artis yang akan mengisi acara. Mulai dari band,
penyanyi solo bahkan ada artis cilik. Aku duduk dengan gelisah, jujur
aku agak gugup untuk tampil hari ini. Kulihat juga banyak penonton
yang memadati studio. Mereka bersorak – sorak memanggil artis
kesayangannya. Menurutku ada yang aneh, ada sebuah kumpulan fans yang
mengibarkan bendera band Slank, setahuku band itu tidak tampil hari
ini. Tidak ada lebih tepatnya. Ah, pasti mereka salah masuk ruangan.
Abaikan saja.
Acara pun dimulai.
Aku bertambah gelisah, kira – kira akan seperti apa penampilanku
hari ini. Aku mengelap keringat yang keluar pelan – pelan. Satu
persatu para artis tampil ke depan. Aku mencari – cari adikku.
Agnes Monica tampil.
Semua penonton bersorak – sorak kesenangan. Sungguh aku ingin
menyaksikan aksinya yang biasanya hanya kulihat di depan layar TV.
Dia sangat mengagumkan. Nanti setelah acara selesai, aku ingin
meminta tanda tangannya. Akhirnya usai sudah penampilannya. Saatnya
aku tampil.
Aku berjalan dengan
rasa nervous yang belum bisa aku kendalikan. Aku gugup bukan main,
sampai rasanya aku lupa lirik lagu yang akan kunyanyikan. Kenapa
tidak lip-sync saja?. Batinku. Semua penonton terpaku menatapku, Ah,
pasti mereka terpana dengan bulu mata anti badaiku atau dengan
jambulku ini. Lupakan. Aku langsung saja memulai aksiku.
Kau yang telah
memilih aku, kau juga yang sakiti aku
Kau putar cerita
sehingga aku yang salah woohoohoo
Kau selalu
permainkan wanita kau putar lagu tentang cinta
Hingga semua tahu
kau makhluk sempurna wohohoo
Penonton berteriak –
teriak memangilku. Aku senang bukan kepalang. Semakin kencang
teriakan mereka, semakin semangat pula aku bernyanyi hingga rasanya
aku tak ingin turun dari panggung. Bibirku bernyanyi maju mundur,
hingga terasa monyong . Kuputar – putarkan badan bak trio macan
yang beraksi. Saking semangatnya, rasanya sanggulku akan copot.
Akhirnya usai juga penampilanku. Aku puas bukan main. Kubungkukkan
badan tanda hormat, tersenyum genit lalu turunlah aku dari panggung.
Tak lama, datanglah
seorang ibu membawa sesuatu. Ah, pasti beliau salah satu penggemarku.
Aku tersenyum ke arahnya. Berhenti sejenak. Namun tiba – tiba dia
menyiramkan air ke arahku. Aku kaget bukan kepalang. Lalu ia
mengoyangkan tubuhku hingga rasanya sesak. Aku berusaha lari namun
sial aku malah terjerembab. Aku tak bisa kemana - mana saat ia
mencengkram lenganku. Aku berusaha berteriak tapi percuma saja.
Suaraku hilang entah lari kemana. Mataku melotot - lotot menahan
sesak. Aku seperti melihat sesosok yang amat kukenal.
“ Ibu “.
Desisku.
“ Hah, kau dapat balasannya kan “ Teriak ibuku kencang. Kulihat para penonton ada yang
cekikikan. Wajahku pias mematung.
“ Tolong semuanya
bubar. Silahkan pulang, pertunjukkan sudah habis “ Ujar ibuku.
Mereka tertawa terbahak – bahak. Masih kudengar dari jauh obrolan
mereka yang tentu saja membuatku akan berpikir ulang tentang
pekerjaan sebagai komentator.
“ Kirain kerasukan
jin, rupanya kerasukan Syahrini. Duh, saking ngefansnya sampai
segitunya. Alhamdulilah yah sesuatu banget “
Gubrak.
Batam,
30.11.2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar