Laman

Sabtu, 25 Februari 2012

(Bukan) Orang Jawa



            Saya terlahir di kota Palembang, tanah leluhur kedua orang tua namun besar di kota Batam. Sejak kecil saya sudah mengenal orang dari berbagai suku, semua tumbuh subur di Batam. Ketika duduk dibangku sekolah, kami tidak membedakan orang dari suku karena pada saat itu guru mengajarkan Bhineka Tunggal Ika (Artinya cari sendiri ya kawan...^_^).
            Nah, ketika tamat sekolah saya melanjutkan ke dunia kerja sebelum ke bangku kuliah. Disinilah saya baru tahu ternyata suku itu termasuk salah satu yang menentukan orang tersebut bisa masuk kerja atau tidak. Mereka akan bertanya “ Dari suku mana?”
            Yang pada akhirnya, saya tahu watak suku A begini, suku B begitu. Ternyata tidak semua paradigma yang selama ini melekat pada suatu suku benar adanya. Kadang malah tertukar. Maka berhati – hatilah dengan pikiran mu kawan.
            Terlepas dari semua itu, saya punya cerita lucu tentang menilai suku seseorang (ditujukan kepada saya pribadi..^_^) yang entah dapat ilham dari mana. Hanya sekilas lalu, anda bisa menebak kira – kira suku mana orang tersebut *Ajaib ya..
            Tamat SMA, saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Muka Kuning. Seorang bapak sekaligus seorang leader di tempat saya bekerja (Tidak disebutkan namanya namun saya ingat wajahnya..^_^), tidak pernah bertanya dari mana asal saya, secara otomatis saya pun tidak pernah mengatakan saya ini asli dari mana. Dia selalu tersenyum dan menyampaikan perintah kerja kepada saya dalam bahasa Jawa. Sekali lagi bahasa Jawa. Saya cuma mengira, mungkin kebanyakan orang yang bekerja disini adalah orang Jawa. Namun, ternyata tidak juga karena orang Batak juga mendominasi disini.
            Maka saya biarkan saja beliau bersikap seperti itu, dan saya hanya tersenyum saja selama saya masih bisa mengerti. Kejadian itu berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Suatu hari, bapak tersebut berbicara panjang lebar dalam bahasa Jawa. Saya hanya terbengong, kali ini saya tak mengerti sama sekali. Untunglah salah satu teman kerja saya melintas, dia yang mengatakan kepada bapak itu.
            “Pak, Indah bukan orang Jawa jadi dia nggak mengerti apa yang bapak sampaikan”
            Saya hanya nyengir – nyengir kuda ketika melihat bapak itu menepok jidatnya. Dia bertanya kenapa selama ini tak memberitahunya. Bagaimana saya bisa memberitahu kalau sehabis bicara bapak itu langsung pergi?. Setelah saya jelaskan itu, beliau tertawa terbahak – bahak.
            “ Tak kirain kamu orang Jawa, ndhok “
            Dengan mata sipit, tidak terlalu tinggi atau pendek, tidak terlalu gendut namun tidak juga kurus, berkulit tidak hitam , tidak juga terlalu putih bukan coklat mungkin kuning langsat (Kalau tidak semua, jangan – jangan saya ini makhluk halus kali ya?..^_^). Entah kenapa orang selalu menebak bahwa saya adalah orang Jawa tak terkira dimana pun saya sedang berada. Hanya sedikit yang mengira saya ini orang Padang dan bisa dihitung menebak saya ini orang Palembang. Dan tentu saja, tidak bisa dihitung sama sekali orang mengira saya adalah orang Jepang. *Eaaaa..
            Hingga tibalah masa bulan Ramadhan tahun 2011. Pada saat tarawih, saya duduk disamping seorang ibu – ibu. Ketika ustad mulai ceramah, ibu itu berbicara panjang lebar dalam bahasa Jawa. Intinya kira – kira, kenapa anak remaja disini tidak mau salat di dalam ruangan, senangnya malah diluar. Itu pun setelah pulang tarawih saya baru tahu, karena saya bertanya perkata kepada salah satu teman saya yang asli Jawa. Sisanya saya tidak paham sama sekali. Saya yang tidak enak memotong pembicaraan ibu itu, hanya tersenyum – senyum. Sekali -  kali saya menatap ibu itu. Namun, saya hanya diam.
            Selesai dia bicara, saya masih terdiam. Yang pada akhirnya mungkin dia menyadari bahwa saya tidak terlalu mengerti apa yang dia sampaikan.
            “ Ndhok, kamu bukan orang Jawa ya?”
            Saya mengangguk pasti. Saya lihat beliau menahan tawa hingga wajahnya merah menahan malu. Untungnya, salat dimulai. Seusai salat tarawih, diambang pintu masih terdengar ucapannya.
            “ Tak kirain kamu orang Jawa “
            Sampai saat ini saya tak juga mengerti kenapa kebanyakan orang menebak bahwa saya ini orang Jawa. Ibarat lotere, pasti mereka kalah semua. Saya sudah belajar keras dari teman saya Dhinar Fajaria Resti dan Intan Debrina yang asli Surabaya serta dari beberapa teman Jawa lainnya agar jika orang bicara dalam bahasa Jawa saya sudah mengerti, setidaknya dialek medoknya dapat. Namun, itu tak juga berhasil hanya beberapa kata yang saya pahami termasuk kata Jan**k dan sem**uL (ternyata artinya sungguh tidak bagus..:-P)
            Maka, biarlah. Biarlah orang mengira bahwa saya ini adalah orang Jawa selama itu tidak terlalu mengganggu. Biarkan mereka menebak – nebak asal saya. Sulit bagi saya untuk mengatakan bahwa saya ini adalah orang Jepang karena mereka pasti tak percaya dan akan mengusir saya dari tanah Indonesia tercinta ini..*Eaa.. eaaaalah..


Salam Merdeka

Indah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar