Saya
terlahir di kota Palembang, tanah leluhur kedua orang tua namun besar di
kota Batam. Sejak kecil saya sudah mengenal orang dari berbagai suku, semua tumbuh
subur di Batam. Ketika duduk dibangku sekolah, kami tidak membedakan orang dari
suku karena pada saat itu guru mengajarkan Bhineka Tunggal Ika (Artinya cari
sendiri ya kawan...^_^).
Nah, ketika
tamat sekolah saya melanjutkan ke dunia kerja sebelum ke bangku kuliah.
Disinilah saya baru tahu ternyata suku itu termasuk salah satu yang menentukan
orang tersebut bisa masuk kerja atau tidak. Mereka akan bertanya “ Dari suku
mana?”
Yang pada
akhirnya, saya tahu watak suku A begini, suku B begitu. Ternyata tidak semua
paradigma yang selama ini melekat pada suatu suku benar adanya. Kadang malah
tertukar. Maka berhati – hatilah dengan pikiran mu kawan.
Terlepas
dari semua itu, saya punya cerita lucu tentang menilai suku seseorang (ditujukan
kepada saya pribadi..^_^) yang entah dapat ilham dari mana. Hanya sekilas
lalu, anda bisa menebak kira – kira suku mana orang tersebut *Ajaib ya..
Tamat SMA, saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Muka Kuning. Seorang bapak
sekaligus seorang leader di tempat saya bekerja (Tidak disebutkan namanya
namun saya ingat wajahnya..^_^), tidak pernah bertanya dari mana asal saya,
secara otomatis saya pun tidak pernah mengatakan saya ini asli dari mana. Dia
selalu tersenyum dan menyampaikan perintah kerja kepada saya dalam bahasa Jawa.
Sekali lagi bahasa Jawa. Saya cuma mengira, mungkin kebanyakan orang yang
bekerja disini adalah orang Jawa. Namun, ternyata tidak juga karena orang Batak
juga mendominasi disini.
Maka saya
biarkan saja beliau bersikap seperti itu, dan saya hanya tersenyum saja selama saya masih bisa mengerti. Kejadian itu berlangsung selama kurang lebih tiga
bulan. Suatu hari, bapak tersebut berbicara panjang lebar dalam bahasa Jawa. Saya hanya terbengong, kali ini saya tak mengerti sama sekali. Untunglah salah satu
teman kerja saya melintas, dia yang mengatakan kepada bapak itu.
“Pak, Indah
bukan orang Jawa jadi dia nggak mengerti apa yang bapak sampaikan”
Saya hanya
nyengir – nyengir kuda ketika melihat bapak itu menepok jidatnya. Dia bertanya
kenapa selama ini tak memberitahunya. Bagaimana saya bisa memberitahu kalau
sehabis bicara bapak itu langsung pergi?. Setelah saya jelaskan itu, beliau
tertawa terbahak – bahak.
“ Tak kirain
kamu orang Jawa, ndhok “
Dengan mata
sipit, tidak terlalu tinggi atau pendek, tidak terlalu gendut namun tidak juga
kurus, berkulit tidak hitam , tidak juga terlalu putih bukan coklat mungkin
kuning langsat (Kalau tidak semua, jangan – jangan saya ini makhluk halus
kali ya?..^_^). Entah kenapa orang selalu menebak bahwa saya adalah orang Jawa
tak terkira dimana pun saya sedang berada. Hanya sedikit yang mengira saya ini
orang Padang dan bisa dihitung menebak saya ini orang Palembang. Dan tentu saja,
tidak bisa dihitung sama sekali orang mengira saya adalah orang Jepang.
*Eaaaa..
Hingga
tibalah masa bulan Ramadhan tahun 2011. Pada saat tarawih, saya duduk disamping seorang
ibu – ibu. Ketika ustad mulai ceramah, ibu itu berbicara panjang lebar dalam
bahasa Jawa. Intinya kira – kira, kenapa anak remaja disini tidak mau salat di
dalam ruangan, senangnya malah diluar. Itu pun setelah pulang tarawih saya baru
tahu, karena saya bertanya perkata kepada salah satu teman saya yang asli Jawa.
Sisanya saya tidak paham sama sekali. Saya yang tidak enak memotong pembicaraan
ibu itu, hanya tersenyum – senyum. Sekali -
kali saya menatap ibu itu. Namun, saya hanya diam.
Selesai dia
bicara, saya masih terdiam. Yang pada akhirnya mungkin dia menyadari bahwa saya
tidak terlalu mengerti apa yang dia sampaikan.
“ Ndhok,
kamu bukan orang Jawa ya?”
Saya
mengangguk pasti. Saya lihat beliau menahan tawa hingga wajahnya merah menahan
malu. Untungnya, salat dimulai. Seusai salat tarawih, diambang pintu masih
terdengar ucapannya.
“ Tak kirain
kamu orang Jawa “
Sampai saat
ini saya tak juga mengerti kenapa kebanyakan orang menebak bahwa saya ini orang Jawa.
Ibarat lotere, pasti mereka kalah semua. Saya sudah
belajar keras dari teman saya Dhinar Fajaria Resti dan Intan Debrina yang asli
Surabaya serta dari beberapa teman Jawa lainnya agar jika orang bicara dalam
bahasa Jawa saya sudah mengerti, setidaknya dialek medoknya dapat. Namun, itu
tak juga berhasil hanya beberapa kata yang saya pahami termasuk kata Jan**k dan
sem**uL (ternyata artinya sungguh tidak bagus..:-P)
Maka,
biarlah. Biarlah orang mengira bahwa saya ini adalah orang Jawa selama itu tidak terlalu
mengganggu. Biarkan mereka menebak – nebak asal saya. Sulit bagi saya untuk
mengatakan bahwa saya ini adalah orang Jepang karena mereka pasti tak percaya dan akan
mengusir saya dari tanah Indonesia tercinta ini..*Eaa.. eaaaalah..
Salam Merdeka
Indah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar