Laman

Rabu, 01 Februari 2012

Cerpen _ Penggalauan yang Gagal


PENGGALAUAN YANG GAGAL
            Aku memutar lagu terlalu lamanya Vierra, entah sudah yang kesekian kalinya. Pagi itu aku masih berbaring di atas kasur, memandangi langit – langit kamar sambil komat kamit mengikuti lirik lagu. Sesungguhnya aku sedang sedih, rasanya air mata ini ingin tumpah. Kuabaikan adikku yang keluar masuk kamar walau sesekali ia menoleh ke arahku. Setelah itu ibuku pun ikut – ikutan bolak balik ke kamarku. Aih, mereka merusak konsentrasiku.
            “ Ngapain sih ibu sama Ayu? “ Kulihat mereka pura – pura kaget.
            “ Menjenguk kamu lah “ Ujar ibu tersenyum penuh arti.
            “ Memangnya aku lagi sakit “ Aku kembali ke posisi awal. Tepar – tepar.
            “ Yah, siapa tahu kamu lagi sakit “ Adikku mencoba meledek.
            “ Sakit cinta “ Kali ini ibuku yang meledek lagi. Aku tergelak lalu terbatuk – batuk. Aku tak ingin menjawab. Aku biarkan mereka meledekku. Mereka bernyanyi – nyanyi dengan suara cempreng. Aku malas meladeni.
            Minggu ini aku hanya ingin menghabiskan waktu di rumah, lebih tepatnya di kamar. Tidak ada niat pergi kemanapun bahkan ketika adikku merayu untuk mengajakku nonton di bioskop seperti yang biasa kami lakukan.
            “ Sesungguhnya aku lagi malas bicara apalagi pergi kemanapun. Aku harap kamu bisa membaca pikiranku “ Kataku penuh takzim seperti seorang guru yang sedang menasehati anak didiknya.
            “ Lebay. Memangnya aku ini Deddy corbuzier “ Ia mendelik padaku. Aku cuma menggelengkan kepala lalu masuk kembali ke kamar. Aku tak peduli bahkan jika ia ingin menjadi Limbad atau Ki joko Bodo sekalipun. Aku cuma ingin dia mengerti bahwa hari ini aku hanya ingin menggalau. Hah..
            Aku akan melakukan sesuatu untuk kamarku. Merapikan tempat tidur, membereskan lemari pakaian, merapikan buku dan segala hal lainnya. Hanya di kamar tanpa bicara walau kutahu itu tak akan bisa.Seisi rumahku bingung melihat sikapku. Sesekali aku hanya ke toilet atau jika lapar aku pergi ke dapur. Ayahku mencolek ibuku lalu ibuku hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti. Nanti jika sudah kuat aku akan ceritakan semuanya pada ibu dan adikku. Tunggu saja.
            Setelah semuanya beres, aku kembali membaringkan tubuh di atas kasur dan kembali menatap langit – langit kamar. Kali ini aku memutar lagu James Blunt – Good bye my lover. Belum sempat si James menyelesaikan lagunya langsung diganti adikku oleh suara Ayu ting ting dengan Alamat palsunya itu. Aku meradang.
            “ Eh, kalau mau mutar lagu kembaranmu, sana di luar “ Aku melotot ke arahnya. Untung tak copot. Namun ia hanya meletakkan jari telunjuk ke mulutnya seakan menyuruhku diam. Lalu ia berjoget ala Sule. Menyebalkan.
            “ Ibu dulu pernah muda, pernah jatuh cinta tapi tidak seperti itu sikap ibu, biasa saja kok “ Ujar ibuku dari ruang dapur yang kebetulan bersebelahan dengan kamarku. Kali ini adikku mengangguk penuh hormat macam abdi kerajaan dan seakan ingin memberitahuku harusnya aku seperti itu. Dasar gila.
            “ Iya, betul itu ibumu “ Ayahku buka suara ikut – ikutan.
            “ Eh, Patrick. Dengerin tuh “ Aku melotot lagi. Aku paling benci dipanggil Patrick. Di rumah ini, kami punya panggilan khusus seperti dalam film Spongebob. Rumahku namanya Bikini bottom. Ayu, dipanggil tuan Krabb karena dia suka mencubit dan sedikit pelit soal makanan. Rahman, si cerewet dan jailnya minta ampun dipanggil Squidword. Adjie, tentu saja Spongebobnya dan yang jadi Planktonnya adalah ponakanku, Iqbal. Sementara aku, dipanggil Patrick si tukang makan dan lemotnya minta ampun. Hah, aku tidak merasa sama dengan karakter Patrick, jauh malah. Tapi aku tak kuasa menghapus nama yang sudah melekat didiriku karena kebetulan kami suka nonton film Spongebob.
            Aku menutup telingaku dengan bantal. Kubiarkan saja, Ayu memutar lagu seenak udelnya. Sebodo amat. Lalu kudengar lamat – lamat suara cempreng Rahman dan ia menghampiriku.
            “ Kenapa sih kakakku yang gendut, sakit ya ?” Tanyanya dengan sangat polos. Biasanya ia mencubit lenganku saking gemasnya kalau aku hanya tiduran di kasur. Katanya sama persis dengan bantal, lembek. Jika bukan Patrcik, maka mereka akan memanggilku gendut. Kurang ajar betul.Sepertinya si Ayu ingin menjawab sekaligus menggodaku, nah belum sempat ia mengeluarkan kata – kata, aku langsung memotongnya.
            “ Maaf ini bukan taman lawang. Si cewek jadi - jadian ini sedang tahap rehabilitasi. Silahkan anda keluar “ Ayu mendelik. Keluarlah tawa khas Rahman, keras dan menggelegar. Dia paling senang jika ada orang lain yang terhina dina. Lalu kami pun perang bantal.
            Nah, kawan. Percuma saja jika ingin menggalau di rumahku. Bising. Aku tak bisa jika hanya diam mematung di dalam kamar karena mereka pasti akan menggodaku. Setelah perang selesai, kami tepar di atas kasur macam ikan asin. Kami tertawa keras. Ibuku menggeleng – geleng melihat kami di dalam kamar. Sayang tidak ada Spongebob.
            Kembali ke perasaanku. Galau ini masih melanda, sulit untuk dihapuskan. Ah, setelah tertawa perasaanku kembali sepi, gundah gulana. Rahman keluar dari kamar setelah dipanggil oleh temannya. Kembali cuma kami berdua, aku dan si Ayu. Kali ini ia memutar lagu Melinda, cinta satu malam. Muak mendengarnya.
            “ Eh, pasti kakak lagi mikirin si om Ardan “ Tebaknya sok tau. Aku tak menjawab. Ardan, cowok yang selama ini sudah membuatku sesak napas karena ia sudah menutup segala lubang hati.Ah, tak jelas. Malas aku memikirkannya.
            Aku pun membuka tutup laptop beberapa kali. Aku bimbang. Seandainya ia bisa bicara, pastilah laptop itu menjerit. Ku buka facebook dan twitter, membaca status orang lain termasuklah status para artis. Aku pun hendak menuliskan statusku. Sekedar update agar semua orang tahu bahkan Syahrini pun harus tahu, hari ini aku sedang apa. Sesuatu yah. Aku mulai mengarang, kira – kira seperti apa statusku hari ini. Kulihat Ayu mencuri – curi pandang.
            “ Aku sedang menggalau “ Jeritnya macam orang sedang mendeklamasikan puisi. Kulempar ia dengan bantal karena mengganggu konsentrasiku. Ia mengelak lalu kembali berteriak lantang.
            “ Oh Ardan, aku menunggumu. Jangan lama - lama “ Lalu ia memutar lagu Terlalu lama nya Vierra. Berisik.
            Karena aku tak bisa berkonsentrasi. Iseng aku membuka profile Ardan. Aku sekedar ingin tahu apa statusnya hari ini. Ia belum membuat status, hanya status untuk sabtu malam alias malam minggu. Sepi, katanya. Aku ingin tertawa, kenapa statusnya sama, hanya saja aku tak sempat menuliskannya. Ah, ternyata ada banyak kesamaan diantara kami yang memberikanku sebersit ide untuk hari ini. Lalu aku pun menuliskannya.
            “ Kebetulankah atau hanya perasaanku saja…”
            Like. Comment. Share.
            Belum ada 5 menit, sudah ada 5 orang yang memberikan jempolnya. Rasanya aku ingin melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih karena memahami perasaanku hari ini. Si Ayu memonyongkan mulutnya lalu terbatuk – batuk keras. Aku pun menyodorkan minum.
            “ Minum Yu, minum.. “
            “ Aku pengen muntah “
            “ Sini biar aku tampung “ Lalu ia pura – pura muntah. Aku tertawa keras.
            “ Kenapa sih kakak, ayolah cerita “ Ia merayuku manakala aku tak bercerita tentang masalahku.
            “ Kan sudah biasa cinta bertepuk sebelah tangan, biasanya nggak begini – begini amat “ Sambungnya lagi. Adikku ini benar – benar sok tahu, ia seakan menjadi mbah Google. Serasa tahu segalanya. Aku masih diam. Ia kembali merayuku.
            Ibuku datang ke kamarku, beliau hendak pergi ke pengajian sore ini. Sebelum pergi ia menepuk – nepuk pundakku lalu berpesan.
            “ Indah, di belakang ada tali raffia warna pink “ Kemudian disambut tawa serentak oleh ibu dan adikku. Kompak benar.
            “ Memangnya aku mau bunuh diri “ Aku pun manyun. Lagi mereka tertawa keras. Kali ini si Ayu tak memutar lagu tapi menyanyikan lagunya Dewa dengan Risalah hati. Jelek benar tapi ia percaya diri sekali.
            Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta
            “ Eh, ganti – ganti “ Seenaknya saja ia mengganti lagu. Kali ini Padi dengan Menanti sebuah jawabannya.
            Sepenuhnya aku ingin memelukmu, mendekap penuh harapan tuk mencintaimu
            Setulusnya aku akan terus menunggu, menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
            Biasanya jika lagu ini dinyanyikan, aku pasti ikut bernyanyi. Aku suka lagu ini. Setahuku sejak aku pertama kali patah hati, lagu inilah yang mengiringi kesedihanku. Waktu itu cintaku tak berbalas. Maka setiap kali cinta tak sampai, aku pasti memutar lagu ini bak sebuah lagu kerajaan. Saat itulah aku termehek – mehek, entah untuk yang kesekian kalinya.
            “ Mari kita menggalau “ Kali ini Ayu macam masinis kereta api, tapi kelas ekonomi.
            “ Eh, sana mandi “ Lalu aku menghembuskan napas tepat ke arah mukanya, yang membuatnya kaget bukan kepalang.
            “ Kakak, bau ih “ Ia melompat dari kasur. Kemudian kami pun melanjutkan perang, adu bau mulut. Hah..
            Malamnya, aku masih saja di dalam kamar. Tadinya malah aku tak ingin mandi. Kuabaikan film favorit yang kebetulan tayang hari ini. Aku masih saja menggalau. Ayu, adikku ini setia sekali mengekoriku. Ia masih saja mengharapkan aku untuk bercerita. Aku ingin sekali bercerita tapi aku malu setengah mati. Biasanya aku bercerita tentang cinta yang tak berbalas sampai aku muak menceritakannya. Anehnya Ayu tak pernah bosan. Ia dengan setia mendengarnya seakan ikut merasakan kesedihanku. Sehabis bercerita ia menepuk – nepuk pundakku.
            Aku mencari – cari posisi yang nyaman untuk bercerita. Kuputar – putar kepala dan kakiku. Kini kepala di lantai dan kaki masih berada di atas kasur. Aku menatap langit – langit kamar. Kemudian Ayu mengikuti gerakanku, seakan tahu aku hendak mulai bercerita.
            “ Wahai adikku, aku akan mulai bercerita “ Kataku penuh hikmat serasa jadi seorang raja yang sedang memberikan titah kepada rakyatnya.
            “ Walau kau masih kecil, kuharap setelah aku bercerita nanti kau akan mengerti “
            “ Halah, langsung saja nggak usah formal – formalan begitu. Muak ah” Ia masih mengikuti gerakanku. Dengan terpaksa aku pun bercerita.
            “ Mulai hari ini sampai 1 bulan ke depan, duitku habis. Sudah tidak punya persediaan untuk kemana – mana, cukup untuk ongkos kuliah bahkan jajan pun aku harus membawa bekal dari rumah. Di kantor, aku terpaksa mencari traktiran. Kantongku cekak bulan ini, habis untuk bayar kuliah dan sisanya aku bayar pesanan belanja online. Aku menyesal belanja online itu “
            Kemudian suasana hening, kami hanya memandang langit – langit kamar tanpa berkata - kata. Kali ini ia tak tahu berkomentar apa. Hanya suara Vierra dengan terlalu lamanya yang mengalun di udara. Judulnya seakan mewakili jerit hatiku, Terlalu lama menunggu gajian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar