Kupandangi
hujan dibalik jendela kamar. Terasa sendu. Sudah 2 hari ini aku tak melihat
Kyran, baik disore hari atau ketika kudatangi rumahnya. Aku mengelap kaca yang
mulai berembun. Kemanakah ia?
“
Yoona, ayo kemari “
Kutoleh
arah sang pemilik suara. Sungguh aku belum terbiasa dengan nama itu karena nama
itu baru disematkan padaku sejak demam Korea melanda, sekitar beberapa bulan
yang lalu. Sebelumnya namaku adalah Mimi, tak perlulah kuceritakan sejarah nama
itu akan berurai air mata jika kembali kuceritakan. Ah, lupakan saja.
Berbaringku
di bawah ketiaknya, seorang gadis yang kupanggil Nona. Aku mulai tinggal disini ketika berumur 10 tahun. Dan sejak berumur 12 tahun, aku sudah bergonta
ganti pacar, tak terhitung jumlahnya, baru – baru ini aku berpacaran dengan
Kyran – Si Kucing Persia. Tiap malam minggu kudatangi rumah Kyran, maklum saja
tak sedikit pun sang pemilik membiarkan Kyran boleh keluar rumah dengan jarak
yang jauh. Sebuah pengorbanan cinta yang harus kujalani.
Aku
menggeliat – geliat saat Nona mengelus perutku. “ Ah, kucing nakal “
“
Kau sudah makan, Yoona ?”
“
Meoooooonnggg “
Nona
langsung melompat dari kasur dan hampir menabrak pintu kamar. Nona selalu
memberikan makanan sehat untukku mulai dari ikan, ayam atau makanan khusus
kucing. Alhasil ketika ada yang memberikan ikan asin dengan santainya kutolak
mentah – mentah. Salah satu temanku yang melihat itu langsung berteriak. “Dasar
kucing kampung belagu”
Rindu
ini tiba – tiba melanda. Kumerindukan Kyran. Setelah makan siang ini,
kuputuskan untuk mencari informasi kemana gerangan ia. Kutembus hujan yang
hampir mereda. Tak kuperdulikan teriakan Nona yang memintaku agar jangan pergi.
Namun, kerinduan ini seperti hantu yang terus membayangi.
Kutemui
satu persatu teman – teman sepermainannya. Dari rumah ke rumah. Hampir semua
tak tahu. Aku melangkah lesu. Baru terasa hujan kali ini begitu dingin. Tiba –
tiba kulihat Oppa datang menghampiriku. Itu nama panggilan yang diminta olehnya
sendiri, setelah melihat kehebohan joget Oppa Gangnam Style. Dasar kucing
norak, batinku.
“
Kau tahu tidak, Kyran sudah pindah ke luar kota di bawa oleh pemiliknya “
Aku
kaget bukan kepalang. Kenapa ia tak memberitahuku? Bukankah kami adalah
sepasang kekasih?. Rasa kecewa melanda hatiku. Kenapa ia tak menulis surat
padaku?. Ah, aku baru ingat kucing tak bisa menulis.
“
Kau menangis ?”
“
Bukan. Ini air hujan “
“
Sudahlah jangan ditangisi. Kalian memang tidak berjodoh. Kyran itu adalah
kucing Persia tak mungkin ia mau mengawini kucing kampung sepertimu. Bahkan
kudengar, ia pindah karena akan dikawinkan dengan kucing Sphinx agar dapat
keturunan yang unik “
Ucapan
Oppa benar – benar menghentakku, aku tak suka status sosialku dihina. Walau aku
Cuma kucing kampung, aku masih punya harga diri. Bukankah cinta itu tak
mengenal kasta.
Kutahu
ia tak suka Kyran sejak berpacaran denganku. Mereka selalu bertengkar. Oppa
sudah lama menyatakan cintanya padaku namun tak pernah kutanggapi. Bahkan aku
pernah mengejeknya, si kucing gendut.
Aku
merana. Hati ini teriris – iris. Kyran meninggalkanku karena hendak kawin
dengan kucing lain. Air mata ini menetes seiring hujan yang semakin deras. Tak
kuperdulikan Oppa memanggil namaku karena nama yang ia panggil salah. Mimi.
Bukankah ia sudah tahu namaku kini Yoona. Aku tak tahu dimana ia
meletakkan otaknya. Aku mendesis jengkel.
Kulihat
Nona menangis, semula kukira karena film yang sedang ditontonnya. Ia sedang
memutar film Korea, yang aku tak tahu apa judulnya. Ada adegan seorang gadis
menangis ditinggal oleh kekasihnya yang hendak berperang. Sedih ini semakin
terasa berlipat – lipat.
Kupandangi
lagi Nona. Bukan. Ia bukan sedang menangisi film. Sesekali ia memandangi hape
bututnya. Ia balik memandangiku.
“
Kau tahu, Jay memutuskan hubungan kami “ Ia menangis. Dia memelukku begitu erat
hingga terasa sesak. Air mata kami berjatuhan, seperti saling berlomba – lomba.
Hujan
kali ini terasa begitu syahdu seiring tangis yang mulai terisak – isak.
Batam, 01 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar