Laman

Minggu, 07 Oktober 2012

PERJUANGAN BELUM USAI


Tubuh yang gagah berani itu jatuh perlahan setelah sebuah peluru nyasar yang entah dari mana datangnya tembus ke tubuhnya. Aku terkesima menahan nafas mencoba berlari memeluk tubuh Rangga. Suasana seakan menghening diantara kebisingan yang terjadi di hari sabtu pagi itu, 01 September 2012.

Edo yang pertama kali menangkap tubuh Rangga sebelum terhempas ke tanah. Teman - teman seperjuangan berhamburan mendekati tubuhnya. Wajahnya yang teduh, seakan tersenyum. Kami tak tahu kalau nyawa Rangga mungkin takkan terselamatkan ketika kami membopongnya ke dalam mobil menuju Rumah Sakit terdekat. Tak ada rasa kesakitan yang terlukis di wajahnya. Lantas haruskah aku menangisinya?

Satu persatu kami memeluk tubuh Rangga yang berlumuran darah. Aku menahan sesak di dada. Haruskah ia mati membawa semua keberaniannya, membawa semua impiannya tentang merubah bangsa ini? Aku masih berharap nafas Rangga akan kembali memburu seperti biasanya.

“”””””””””””””””””””””””””””””””
Aku dan Rangga adalah dua sahabat dekat sejak kecil. Kami mengambil jurusan yang sama di fakultas hukum. Kami sudah duduk disemester akhir hanya tinggal menunggu momen wisuda. Rangga akan melanjutkan impiannya ke jenjang S-2, demi melanjutkan cita – citanya menjadi seorang presiden. Impiannya sejak kami masih kanak – kanak. Sementara aku akan membuka usaha daur ulang barang bekas.

“ Negeri ini harus berubah, Zam!” Pekiknya ketika kami berada di atas bukit belakang kampus.

“ Percuma, siapa yang perduli “ Ujarku mencibirnya saat pertama kali kami menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.

“ Aku, kau dan kita – para pemuda yang masih memiliki jiwa nasionalis “ Ujarnya bangga sambil mengepalkan tangan. Lantang, lugas dan tak ada keraguan disana.

“ Sulit bung, lihat saja perjuangan teman – teman pada tahun 1998 yang memperjuangkan reformasi. Kenyataannya sekarang apa, tenggelam. Sepertinya memang bangsa ini tak ingin berubah “ Ucapku persimis.

“ Lantas kenapa kau ambil hukum kalau begitu ?”

“ Supaya aku tidak dibodoh – bodohin soal hukum ketika membuka usaha nanti “ Ujarku santai.

“Baiklah, terserah kau. Kan kutunjukkan bahwa aku memang serius untuk merubah segala kebijakan di negeri ini. Aku akan berjuang dijalanku “

Benar saja dugaanku. Rangga aktif di bidangnya, ia tercatat sebagai ketua BEM di semester 4. Ketua dalam komunitas debat hukum di kalangan mahasiswa. Hampir semua mahasiswa mengenalnya. Ia juga senang menyuarakan suara keadilan di Koran – Koran ternama ibu kota. Tulisannya begitu tajam menyoroti tentang kasus korupsi dan pelitisiran para anggota DPR. Dia selalu mengatur waktu untuk melakukan demo, menentang kebijakan pemerintah. Dia selalu memegang prinsip bahwa hal yang terpenting di sebuah Negara adalah pemimpin dengan kebijakannya.

“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

17 Agustus 2012, aku shock ketika membaca sebuah berita di Kompas. Setelah membacanya ku putar layar agar bisa dibaca oleh Rangga yang ada di depanku.

“ Ini baca berita hari ini “Peroleh Remisi, 32 Koruptor Merdeka” *1

Rangga sangat serius membacanya setelah itu ia menggebrak meja saking kesalnya.

“ Ini bagaimana ini, pemerintah malah memberi remisi untuk para koruptor “ Suara Edo terasa sangat melengking kali ini. Yang lain langsung riuh, mencoba membuka laman website kompas dan langsung membacanya.

“ Apa kubilang, siapa yang perduli dengan perjuangan kita “ Ujarku datar.

Namun, Rangga seolah tak mendengar ucapanku lalu mengambil sebuah kalender dan membundarinya “ Baiklah, kita atur waktu untuk kembali berdemo yaitu tanggal 01 September 2012 - sabtu pagi “  

Itu artinya hanya berselang 2 minggu setelah lebaran. Aku mengatupkan rahang, Rangga tak pernah bisa dihentikan. Ia cukup keras kepala dalam hal ini, tak banyak bicara namun tindakannya spontan.

“ Zam, tolong catat ini “
Ia lalu menuliskan 2 poin yang akan kami suarakan di papan white board di ruang kantor kami.
1.      Hukum seumur hidup para koruptor dan tidak ada remisi untuk mereka.
2.      Sita harta yang sudah dikorupsi dan kembalikan ke Negara.


“”””””””””””””””””””””
Ayah Rangga memeluk putranya dengan sangat tegar, tak ada air mata yang mengalir. Seakan menahan kesedihan itu. Aku tahu ayah Rangga selalu bangga kepada anak keduanya itu. Beliau sangat mendukung cita – cita putranya yang ingin menjadi seorang presiden. Walau tak jarang karena keberanian anaknya itu membuat usaha batiknya hampir bangkrut. Ia yakin Rangga akan mampu merubah negeri ini dengan segala pemikirannya, ucapan dan tindakannya yang lebih mensejahterakan rakyat. Hanya ibunya yang masih berteriak – teriak histeris seakan tak percaya bahwa anaknya telah meninggal.

“ Negara macam apa ini….. “ Pekiknya. Ia tak mampu lagi melanjutkan perkataannya karena tubuhnya mulai lemas lalu tiba – tiba pingsan mendadak.

Kini kusematkan mimpi itu didadaku. Kan kuhapus rasa pesimis dihati. Kan kulanjutkan mimpi itu, mimpi menjadi seorang presiden. Perjuangan belum usai, aku yakin masih ada orang – orang yang ingin berjuang bersama demi perubahan bangsa yang lebih baik. Demi bangsa Indonesia.
.


Batam, September 2012
  
*1 = Kompas – 17 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar