Tubuh
yang gagah berani itu jatuh perlahan setelah sebuah peluru nyasar yang entah
dari mana datangnya tembus ke tubuhnya. Aku terkesima menahan nafas mencoba
berlari memeluk tubuh Rangga. Suasana seakan menghening diantara kebisingan yang
terjadi di hari sabtu pagi itu, 01 September 2012.
Edo
yang pertama kali menangkap tubuh Rangga sebelum terhempas ke tanah. Teman - teman seperjuangan berhamburan mendekati tubuhnya. Wajahnya yang teduh, seakan tersenyum. Kami tak
tahu kalau nyawa Rangga mungkin takkan terselamatkan ketika kami membopongnya
ke dalam mobil menuju Rumah Sakit terdekat. Tak ada rasa kesakitan yang
terlukis di wajahnya. Lantas haruskah aku menangisinya?
Satu
persatu kami memeluk tubuh Rangga yang berlumuran darah. Aku menahan sesak di
dada. Haruskah ia mati membawa semua keberaniannya, membawa semua impiannya
tentang merubah bangsa ini? Aku masih berharap nafas Rangga akan kembali
memburu seperti biasanya.
“”””””””””””””””””””””””””””””””
Aku
dan Rangga adalah dua sahabat dekat sejak kecil. Kami mengambil jurusan yang
sama di fakultas hukum. Kami sudah duduk disemester akhir hanya tinggal
menunggu momen wisuda. Rangga akan melanjutkan impiannya ke jenjang S-2, demi
melanjutkan cita – citanya menjadi seorang presiden. Impiannya sejak kami masih
kanak – kanak. Sementara aku akan membuka usaha daur ulang barang bekas.
“
Negeri ini harus berubah, Zam!” Pekiknya ketika kami berada di atas bukit
belakang kampus.
“
Percuma, siapa yang perduli “ Ujarku mencibirnya saat pertama kali kami
menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.
“
Aku, kau dan kita – para pemuda yang masih memiliki jiwa nasionalis “ Ujarnya
bangga sambil mengepalkan tangan. Lantang, lugas dan tak ada keraguan disana.
“
Sulit bung, lihat saja perjuangan teman – teman pada tahun 1998 yang
memperjuangkan reformasi. Kenyataannya sekarang apa, tenggelam. Sepertinya
memang bangsa ini tak ingin berubah “ Ucapku persimis.
“
Lantas kenapa kau ambil hukum kalau begitu ?”
“
Supaya aku tidak dibodoh – bodohin soal hukum ketika membuka usaha nanti “
Ujarku santai.
“Baiklah,
terserah kau. Kan kutunjukkan bahwa aku memang serius untuk merubah segala
kebijakan di negeri ini. Aku akan berjuang dijalanku “
Benar
saja dugaanku. Rangga aktif di bidangnya, ia tercatat sebagai ketua BEM di
semester 4. Ketua dalam komunitas debat hukum di kalangan mahasiswa. Hampir
semua mahasiswa mengenalnya. Ia juga senang menyuarakan suara keadilan di Koran
– Koran ternama ibu kota. Tulisannya begitu tajam menyoroti tentang kasus
korupsi dan pelitisiran para anggota DPR. Dia selalu mengatur waktu untuk
melakukan demo, menentang kebijakan pemerintah. Dia selalu memegang prinsip
bahwa hal yang terpenting di sebuah Negara adalah pemimpin dengan kebijakannya.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
17
Agustus 2012, aku shock ketika membaca sebuah berita di Kompas. Setelah
membacanya ku putar layar agar bisa dibaca oleh Rangga yang ada di depanku.
“
Ini baca berita hari ini “Peroleh Remisi, 32 Koruptor Merdeka” *1
Rangga
sangat serius membacanya setelah itu ia menggebrak meja saking kesalnya.
“
Ini bagaimana ini, pemerintah malah memberi remisi untuk para koruptor “ Suara
Edo terasa sangat melengking kali ini. Yang lain langsung riuh, mencoba membuka
laman website kompas dan langsung membacanya.
“
Apa kubilang, siapa yang perduli dengan perjuangan kita “ Ujarku datar.
Namun,
Rangga seolah tak mendengar ucapanku lalu mengambil sebuah kalender dan
membundarinya “ Baiklah, kita atur waktu untuk kembali berdemo yaitu tanggal 01
September 2012 - sabtu pagi “
Itu
artinya hanya berselang 2 minggu setelah lebaran. Aku mengatupkan rahang,
Rangga tak pernah bisa dihentikan. Ia cukup keras kepala dalam hal ini, tak
banyak bicara namun tindakannya spontan.
“
Zam, tolong catat ini “
Ia
lalu menuliskan 2 poin yang akan kami suarakan di papan white board di ruang
kantor kami.
1.
Hukum
seumur hidup para koruptor dan tidak ada remisi untuk mereka.
2. Sita harta yang sudah dikorupsi dan
kembalikan ke Negara.
“”””””””””””””””””””””
Ayah
Rangga memeluk putranya dengan sangat tegar, tak ada air mata yang mengalir.
Seakan menahan kesedihan itu. Aku tahu ayah Rangga selalu bangga kepada anak
keduanya itu. Beliau sangat mendukung cita – cita putranya yang ingin menjadi
seorang presiden. Walau tak jarang karena keberanian anaknya itu membuat usaha
batiknya hampir bangkrut. Ia yakin Rangga akan mampu merubah negeri ini dengan
segala pemikirannya, ucapan dan tindakannya yang lebih mensejahterakan rakyat.
Hanya ibunya yang masih berteriak – teriak histeris seakan tak percaya bahwa
anaknya telah meninggal.
“
Negara macam apa ini….. “ Pekiknya. Ia tak mampu lagi melanjutkan perkataannya
karena tubuhnya mulai lemas lalu tiba – tiba pingsan mendadak.
Kini
kusematkan mimpi itu didadaku. Kan kuhapus rasa pesimis dihati. Kan kulanjutkan
mimpi itu, mimpi menjadi seorang presiden. Perjuangan belum usai, aku yakin
masih ada orang – orang yang ingin berjuang bersama demi perubahan bangsa yang
lebih baik. Demi bangsa Indonesia.
.
Batam,
September 2012
*1 = Kompas – 17 Agustus 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar